Makalah Perawatan Tanaman Kakao, Pohon Pelindung Tanaman Kakao Dan Panen Buah Kakao (Theobroma Cacao)

Oleh : Sayuti Dahlan
 
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Di samping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayan dan pengembangan agroindustri. Pada tahun 2002, perkebunan kakao telah menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu kepala keluarga petani yang sebagian besar berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI) serta memberikan sumbangan devisa terbesar ke tiga sub sektor perkebunan setelah karet dan minyak sawit dengan nilai US $ 701 juta.
Perkebunan kakao di Indonesia mengalami perkembangan pesat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir dan pada tahun 2002 areal perkebunan kakao Indonesia tercatat seluas 914.051 ha. Perkebunan kakao tersebut sebagianbesar (87,4%) dikelola oleh rakyat dan selebihnya 6,0% perkebunan besar negara serta 6,7% perkebunan besar swasta. Jenis tanaman kakao yang diusahakan sebagian besar adalah jenis kakao lindak dengan sentra produksi utama adalah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. Di samping itu juga diusahakan jenis kakao mulia oleh perkebunan besar negara di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Dari segi kualitas, kakao Indonesia tidak kalah dengan kakao dunia dimana bila dilakukan fermentasi dengan baik dapat mencapai cita rasa setara dengan kakao berasal dari Ghana dan keunggulan kakao Indonesia tidak mudah meleleh sehingga cocok bila dipakai untuk blending. Sejalan dengan keunggulan tersebut, peluang pasar kakao Indonesia cukup terbuka baik ekspor maupun kebutuhan dalam negeri. Dengan kata lain, potensi untuk menggunakan industri kakao sebagai salah satu pendorong pertumbuhan dan distribusi pendapatan cukup terbuka.
Meskipun demikian, agribisnis kakao Indonesia masih menghadapi berbagai masalah kompleks antara lain produktivitas kebun masih rendah akibat serangan hama Penggerek Buah Kakao (PBK), mutu produk masih rendah serta masih belum optimalnya teknologi budidaya tanaman kakao. Hal ini menjadi suatu tantangan sekaligus peluang bagi para investor untuk mengembangkan usaha dan meraih nilai tambah yang lebih besar dari agribisnis kakao.
Kakao (Theobroma cacao, L) merupakan salah komoditas perkebunan yang sesuai untuk perkebunan rakyat, karena tanaman ini dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun, sehingga dapat menjadi sumber pendapatan harian atau mingguan bagi pekebun. Tanaman kakao berasal dari daerah hutan hujan tropis di Amerika Selatan. Di daerah asalnya, kakao merupakan tanaman kecil di bagian bawah hutan hujan tropis dan tumbuh terlindung pohon-pohon yang besar. Oleh karena itu dalam budidayanya, tanaman kakao memerlukan naungan. Sebagai daerah tropis, Indonesia yang terletak antara 6 LU – 11 LS merupakan daerah yang sesuai untuk tanaman kakao. Namun setiap jenis tanaman mempunyai kesesuian lahan dengan kondisi tanah dan iklim tertentu, sehingga tidak semua tempat sesuai untuk tanaman kakao, dan untuk pengembangan tanaman kakao hendaknya tetap mempertimbangkan kesesuaian lahannya.
Sebagai tananam yang dalam budidayanya memerlukan naungan, maka walaupun telah diperoleh lahan yang sesuai, sebelum penanaman kakao tetap diperlukan persiapan naungan. Tanpa persiapan naungan yang baik, pengembangan tanaman kakao akan sulit diharapkan keberhasilannya. Oleh karena itu persiapan lahan dan naungan, serta penggunaan tanaman yang bernilai ekonomis sebagai penaung merupakan hal penting yang perlu diperhatikan dalam budidaya kakao.
Pengembangan tanaman kakao, budidayanya memerlukan naungan. Tanpa persiapan lahan dan tanpa persiapan naungan yang baik, pengembangan tanaman kakao akan sulit diharapkan keberhasilannya. Tanaman penaung yang biasanya digunakan adalah Moghania macrophylla sebagai penaung sementara dan, Lamtoro atau Glirisidia sebagai penaung tetap, yang tidak memberikan manfaat ekonomis secara langsung bagi petani, sehingga kurang menarik bagi petani. Secara umum, dalam budidaya kakao juga dihadapi masalah harga komoditi yang tidak menentu, kondisi lahan yang semakin menurun, serta mutlak diperlukannya naungan dalam budidayanya. Oleh karema itu, maka pola diversifikasi tanaman kakao merupakan peluang untuk pengembangan kakao dengan pemanfaatan tanaman yang mempunyai nilai ekonomis seperti pisang sebagai penaung sementara, dan kelapa sebagai penaung tetap, serta jati. sengon, atau tanaman lainnya sebagai tanaman tepi blok kebun.
1.2  Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah teknologi budidaya aneka tanaman industri, selain itu tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui cara pemeliharaan tanaman kakao, penaungan tanaman kakao dan panen buah kakao.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Syarat Tumbuh Tanaman Kakao
a)      Tanah
Tanaman kakao untuk tumbuhnya memerlukan kondisi tanah yang mempunyai kandungan bahan organ yang cukup, lapisan olah yang dalam untuk membantu pertumbuhan akar, sifat fisik yang baik seperti struktur tanah yang gembur juga sistem drainase yang baik. PH tanah yang ideal berkisar antara 6 – 7 (Suhardjo dan Butar-butar, 1979).
Menurut Situmorang ( 1973) tanah mempunyai hubungan erat dengan sistem perakaran tanaman kakao, karena perakaran tanaman kakao sangat dangkal dan hampir 80% dari akar tanaman kakao berada disekitar 15 cm dari permukaan tanah, sehingga untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik tanaman kakao menghendaki struktur tanah yang gembur agar perkembangan akar tidak terhambat.
Selanjutnya Tjasadiharja (1980) berpendapat, perkembangan akar yang baik menentukan jumlah dan distribusi akar yang kemudian berfungsi sebagai organ penyerapan hara dari tanah. Tanaman kakao menghendaki permukaan air tanah yang dalam. Permukaan air tanah yang dangkal menyebabkan dangkalnya perakaran sehingga tumbuhnya tanaman kurang kuat (Anonymous, 1988).
b)      Iklim.
Lingkungan yang alami bagi tanaman kakao adalah hutan tropis, dengan demikian curah hujan, suhu, kelembaban udara, intensitas cahaya dan angin merupakan faktor pembatas penyebaran tanaman kakao (Siregar et al., 1989).
Tanaman kakao dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian 0 – 600 meter diatas permukaan laut, dengan penyebaran meliputi 20˚ LU dan 20˚ LS. Daerah yang ideal untuk pertumbuhannya berkisar antara 10˚ LU dan 10˚ LS (Suyoto dan Djamin, 1983).
2.1    Morfologi Tanaman Kakao
Tanaman kakao termasuk golongan tanaman tahunan yang tergolong dalam kelompok tanaman caulofloris, yaitu tanaman yang berbunga dan berbuah pada batang dan cabang. Tanaman ini pada garis besarnya dapat dibagi atas dua bagian, yaitu bagian vegetatif yang meliputi akar, batang serta daun dan bagian generatif yang meliputi bunga dan buah (Siregar at al., 1989).
1.      Akar.
Akar tanaman kakao mempunyai akar tunggang (Radik primaria). Pertumbuhannya dapat mencapai 8 meter kearah samping dan 15 meter kearah bawah. Kakao yang diperbanyak secara vegetatif pada awal pertumbuhannya tidak membentuk akar tunggang, melainkan akar-akar serabut yang banyak jumlahnya. Setelah dewasa tanaman tersebut akan membentuk dua akar jumlahnya. Setelah dewasa tanaman tersebut akan membentuk dua akar yang menyerupai akar tunggang. Pada kecambah yang telah berumur 1 – 2 minggu terdapat akar-akar cabang (Radik lateralis) yang merupakan tempat tumbuhnya akar-akar rambut (Fibrilla) dengan jumlah yang cukup banyak. Pada bagian ujung akar ini terdapat bulu akar yang dilindungi oleh tudung akar (Calyptra). Bulu akar inilah yang berfungsi menyerap larutan dan garam-garam tanah. Diameter bulu akar hanya 10 mikro dan panjang maksimum hanya 1 milimeter.
2.      Batang
Diawal pertumbuhannya tanaman kakao yang diperbanyak dengan biji akan membentuk batang utama sebelum tumbuh cabang-cabang primer. Letak pertumbuhan cabang-cabang primer disebut jorquette, dengan ketinggian yang ideal 1,2 – 1,5 meter dari permukaan tanah dan jorquette ini tidak terdapat pada kakao yang diperbanyak secara vegetatif. Ditinjau dari segi pertumbuhannya, cabang-cabang pada tanaman kakao tumbuh kearah atas dan samping. Cabang yang tumbuh kearah atas disebut cabang Orthotrop dan cabang yang tumbuh kearah samping disebut dengan Plagiotrop. Dari batang dan kedua jenis cabang tersebut sering ditumbuhi tunas-tunas air (Chupon) yang banyak menyerap energi, sehingga bila dibiarkan tumbuh akan mengurangi pembungaan dan pembuahan (Siregar et al., 1989).
3.      Bunga
Bunga kakao tergolong bunga sempurna, terdiri atas daun kelopak (Calyx) sebanyak 5 helai dan benang sari ( Androecium) berjumlah 10 helai. Diameter bunga 1,5 centimeter. Bunga disangga oleh tangkai bunga yang panjangnya 2 – 4 centimeter (Siregar et al., 1989). Pembungaan kakao bersifat cauliflora dan ramiflora, artinya bunga-bunga dan buah tumbuh melekat pada batang atau cabang, dimana bunganya terdapat hanya sampai cabang sekunder (Ginting, 1975). Tanaman kakao dalam keadaan normal dapat menghasilkan bunga sebanyak 6000 – 10.000 pertahun tetapi hanya sekitar lima persen yang dapat menjadi buah (Siregar et al., 1989).

4.      Buah
Buah kakao berupa buah buni yang daging bijinya sangat lunak. Kulit buah mempunyai sepuluh alur dan tebalnya 1 – 2 cm (Siregar et al., 1989). Bentuk, ukuran dan warna buah kakao bermacam-macam serta panjangnya sekitar 10–30 cm, umumnya ada tiga macam warna buah kakao, yaitu hijau muda sampai hijau tua, waktu muda dan menjadi kuning setelah masak, warna merah serta campuran antara merah dan hijau. Buah ini akan masak 5 – 6 bulan setelah terjadinya penyerbukan. Buah muda yang ukurannya kurang dari 10 cm disebut cherelle (pentil). Buah ini sering sekali mengalami pengeringan (cherellewilt) sebagai gejala spesifik dari tanaman kakao.
Gejala demikian disebut physiological effect thinning, yakni adanya proses fisiologis yang menyebabkan terhanbatnya penyaluran hara yang menunjang pertumbuhan buah muda. Gejala tersebut dapat juga dikarenakan adanya kompetisi energi antara vegetatif dan generatif atau karena adanya pengurangan hormon yang dibutuhkan untuk pertumbuhahn buah muda (Siregar et al., 1989).
Biji kakao tidak mempunyai masa dormasi sehingga penyimpanan biji untuk benih dengan waktu yang agak lama tidak memungkinkan. Biji ini diselimuti oleh lapisan yang lunak dan manis rasanya, jika telah masak lapisan tersebut pulp atau micilage. Pulp ini dapat menghambat perkecambahan dan karenanya biji yang akan digunakan untuk menghindari dari kerusakan biji dimana jika pulp ini tidak dibuang maka didalam penyimpanan akan terjadi proses fermentasi sehingga dapat merukkan biji ( Suharjo dan Butar-butar, 1979).



 BAB III
ISI
3.1 Pemeliharaan Tanaman Kakao
v  Penyiangan 
Pengendalian gulma dilakukan dengan membabat tanaman pengganggu sekitar 50 cm dari pangkal batang atau dengan herbisida sebanyak 1,5-2,0 liter/ha yang dicampur dengan 500-600 liter air. Penyiangan yang paling aman adalah dengan cara mencabut tanaman pengganggu.Tujuan penyiangan/pengendalian gulma adalah untuk mencegah persaingan dalam penyerapan air dan unsur hara, untuk mencegah hama dan penyakit serta gulma yang merambat pada tanaman kakao/kakao.
v  Pemangkasan 
Tujuan pemangkasan adalah untuk menjaga/pencegahan serangan hama atau penyakit, membentuk pohon, memelihara tanaman dan untuk memacu produksi.
ü  Pemangkasan Bentuk
Fase muda Dilakukan pada saat tanaman berumur 8-12 bulan dengan membuang cabang yang lemah dan mempertahankan 3-4 cabang yang letaknya merata ke segala arah untuk membentuk jorquette (percabangan). Fase remaja Dilakukan pada saat tanaman berumur 18-24 bulan dengan membuang cabang primer sejauh 30-60 cm dari jorquette
ü  Pemangkasan pemeliharaan.
Membuang tunas yang tidak diinginkan, cabang kering, cabang melintang dan ranting yang menyebabkan tanaman terlalu rimbun.
ü  Pemangkasan produksi.
Bertujuan untuk mendorong tanaman agar memiliki kemampuan berproduksi secara maksimal. Pemangkasan ini dilakukan untuk mengurangi kelebatan daun.
v  Penyulaman 
Tanaman yang mati segera dilakukan penyulaman dengan tanaman baru yang sehat. Penyulaman dapat dilakukan sampai tanaman berumur 10 tahun. 
v  Penyiraman
Penyiraman tanaman kakao yang tumbuh dengan kondisi tanah yang baik dan berpohon pelindung, tidak perlu banyak memerlukan air. Air yang berlebihan menyebabkan kondisi tanah menjadi sangat lembab. Penyiraman pohon kakao dilakukan pada tanaman muda terutama tanaman yang tak diberi pohon pelindung. 
v  Penyemprotan Pestisida 
Walaupun terdapat ketahanan internal dari pupuk Bio P 2000 Z, pada kondisi tertentu tanaman juga terkena hama dan penyakit. Hal ini sama dengan kondisi manusia walaupun telah diupayakan sehat, namun tetap tidak luput terkena penyakit.
Penyemprotan pestisida  dilakukan dengan dua tahapan, pertama bersifat untuk pencegahan sebelum diketahui ada hama yang benar-benar menyerang. Kadar dan jenis pestisida  disesuaikan. Penyemprotan tahapan kedua adalah usaha  pemberantasan hama, selain jenis juga kadarnya ditingkatkan. Misal untuk pemberantasan digunakan insektisida berbahan aktif seperti Dekametrin (Decis 2,5 EC), Sihalotrin (Matador 25 EC), Sipermetrin (Cymbush 5 EC), Metomil Nudrin 24 WSC/Lannate 20 L) dan Fenitron  (Karbation 50 EC). 
v  Penyerbukan Buatan 
Dari bunga yang muncul hanya 5% yang akan menjadi buah, peningkatan persentase pembuahan dapat dilakukan dengan  penyerbukan buatan. Bagian bunga yang mekar digosok denga  bunga jantan yang telah dipetik sebelumnya, kemudian bunga ditutup dengan sungkup.
v  Pemupukan.
Pengurangan pupuk yang cukup dratis ini dikarenakan adanya mikrobia  yang ada di dalam  pupuk mempunyai sifat-sifat adalah: Bersifat fiksasi  atau penambat unsur Nitrogen baik di udara dan di tanah. Diketahui bahwa Nitrogen di udara mempunyai komposisi 70 % dari kandungan seluruh unsur di udara. Sehingga pengurangan pupuk urea dapat mencapai 50 % dari dosis yang dianjurkan. Kemampuan mikrobia yang menambat pupuk an organik yang diberikan. Sehingga pupuk tersebut tidak menguap atau tercuci, unsur hara yang ada diserap dilindungi dan disediakan pada saat tanaman menyerapnya. Efisiensi penggunaan pupuk urea dapat mencapai 50 % sedangkan untuk SP 36 dan KCl dan Kliserit hanya sekitar 30 % saja.
Disamping kemampuan dalam efisiensi pupuk, maka beberapa keuntungan dengan menggunakan pupuk Bio P 2000 Z secara garis besarnya adalah sebagai berkut: Kemampuan memperbaiki sifat kimia, fisika dan biologi tanah. Kemampuan menetralkan sifat racun dan pH tanah. Kemampuan merangsang pertumbuhan vegetatif tanaman. Dan kemampuan merangsang pertumbuhan generatif, sehingga buah lebat dan bagus. Ketahanan internal lebih baik dari serangan hama dan penyakit.
v  Hama Dan Penyakit
Hama dan penyakit ditangani sesuai dengan serangan yang ada. Sistem pengendalian hama terpadu diterapkan untuk menlindungi seluruh ekosistem yang ada. Pengendalian hama dan penyakit tanaman : tajuk plagiotrop berpotensi lebih rimbun daripada tajuk ortotrop, sehingga peluang terserang penyakit lebih besar. Prinsip utama dalam pengendalian hama dan penyakit yaitu pengendalian hama secara terpadu (PHT) menggunakan biopestisida dan agens hayati. Hama Helopelthis spp dikendalikan secara biologis dengan semut hitam (Dolichoderus thoracious) dan biopestisida Beauveria bassiana.
Penyakit busuk buah kakao dikendalikan secara preventif dengan sanitasi kebun dan memanen buah sakit dan membenamnya. Kulit buah hasil panen sebaiknya dibenamkan, tetapi yang sehat dapat disebar dikebun sebagai tempat berkembangbiaknya serangga penyerbuk bunga kakao. Jika tingkat serangan hama dan penyakit tinggi dapat menggunakan pestisida yang terdaftar dengan dosis sesuai anjuran.
v  Rehabilitasi Tanaman Dewasa 
Tanaman dewasa yang produktivitasnya mulai menurun tidak diremajakan (ditebang untuk diganti tanaman baru), tetapi direhabilitasi dengan cara okulasi tanaman dewasa dan sambung samping tanaman dewasa. Cara yang kedua lebih unggul karena peremajaan dapat dilakukan dalam waktu yang lebih singkat, murah dan lebih cepat berproduksi. Entres (bahan sambungan) diambil dari kebun entres atau produksi yang telah diseleksi, berupa cabang berwarna hijau, hijau kekakaoan atau kakao, diameter 0,75-1,50 cm dan panjang 40-50 cm. Sambungan dapat dibuka setelah 3-4 minggu.  
3.2 Naungan Tanaman Kakao/ Pohon Pelindung
      Pohon Pelindung
Tanaman kakao mutlak memerlukan pohon pelindung yang ditanam sebagai tanaman lorong diantara tanaman-tanaman kakao. Terdapat dua macam pohon pelindung yaitu:
1.      Pohon Pelindung Sementara.
Pohon ini diperlukan untuk melindungi tanaman kakao muda (belum berproduksi) dari tiupan angin dan sinar matahari. Jenis pohon yang dapat ditanam adalah pisang (Musa paradisiaca), turi (Sesbania sp.), Flemingia congesta atauClotaralia sp. Pohon ini ditanam  1 bulan sebelum ditanam kakao atau bersamaan waktunya dengan penanaman kakao. Untuk pohon pelindung dari pisang usahakan tanaman pisang jangan sampai anakan menjadi banyak, jumlah pohon yang ada hanya 3 batang.  Pohon pelindung sementara ini harus sudah di hilangkan setelah 4 atau 5 bulan.
2.      Pohon Pelindung Tetap.
Pohon ini harus dipertahankan sepanjang hidup tanaman kakao dan berfungsi sebagai melindungi tanaman kakao yang sudah produktif dari kerusakan sinar matahari dan menghambat kecepatan angin. Jenis pohon yang cocok adalah Lamtoro (Leucena sp.), Sengon Jawa (Albizia stipula), Dadap (Erythrina sp.) dan Kelapa (Cocos nucifera). Pohon pelindung tetap ditanam dengan jarak tanam 6 x 3 m.  Jarak tanam yang diajurkan adalah 3 X 3 m2 dengan kerapatan pohon 1.100 batang pohon/hektar. Jarak ini sangat ideal karena nantinya pohon akan membentuk tajuk yang seimbang sehingga tanaman tidak akan mudah tumbang. 
3.3 Panen
Penanganan  panen dan pasca panen buah kakao sangat penting, kegiatan inilah yang menentukan produk akhir buah kakao.
a.       Tanda-Tanda Buah Siap Panen :
J  Perubahan warna alur dari hijau menjadi kuning orange  ± 50 %
J  Buah masak porosnya agak kering, biji-biji didalam agak renggang dari kulit buah terbentuk rongga antara biji dan kulit buah.
J  Buah apabila dikocok/diguncang berbunyi
Buah kakao/kakao bisa dipenen apabila perubahan warna  kulit dan setelah fase pembuahan sampai menjadi buah dan matang ± usia 5 bulan. Ciri-ciri buah akan dipanen adalah warna kuning pada alur buah; warna kuning pada alur buah dan punggung alur buah; warna kuning pada seluruh permukaan buah dan warna kuning tua pada seluruh permukaan buah. Kakao masak pohon dicirikan dengan perubahan warna buah: Warna buah sebelum masak hijau, setelah masak alur buah menjadi kuning. Warna buah sebelum masak merah tua, warna buah setelah masak merah muda, jingga, kuning. 
Buah akan masak pada waktu 5,5 bulan (di dataran rendah) atau 6 bulan (di dataran tinggi) setelah penyerbukan. Pemetikan buah dilakukan pada buah yang tepat masak. Kadar gula buah kurang masak rendah sehingga hasil fermentasi kurang baik, sebaliknya pada buah yang terlalu masak, biji seringkali telah berkecambah, pulp mengering dan aroma berkurang.
Terdapat tiga perubahan warna kulit pada buah kakao yang menjadi kriteria kelas kematangan buah di kebun – kebun yang mengusahakan kakao, yakni : Kelas kematangan A+, kuning tua pada seluruh permukaan buah. Kelas A, kuning pada seluruh permukaan buah. Kelas B, kuning pada alur buah dan punggung alur buah. Kelas C, kuning pada alur buah.

b.      Pemetikan
J  Petik buah yang betul-betul masak menggunakan pisau atau sabit bergalah Yang tajam
J  Rotasi pemetikan setiap  7 atau  14  hari
J  Rendam buah yang busuk atau terserang hama/penyakit kedalam tanah sedalam  50 cm di pinggir kebun
J  Selama memanem buah diusahakan  tidak merusak  atau melukai batang tanaman/bantalan buah
Ø  Pasca Panen


Tahapan penenganan pasca panen kakao meliputi :
1.      Sortasi  buah  
Buah yang sudak masak dipanen,  masukkan kedalam keranjang, angkut ketempat Pengumpulan buah yang letaknya  masih dalam kebun.  Setalah itu disortasi    dalam dua bagian yaitu :   
a.       Sortasi I
Terdiri dari buah-buah sehat dan masaknya sempurna.

b.      Sortasi  II
J  Buah-buah yang kurang bauk terserang ulat buah
J  Buah belum masak/keliru pungut
J  Biji dari sortasi  I yang  tercampur tanah
J  Biji yang tercecer ditanah, bekas buah yang dimakan tikus/bajing
2.      Pemecahan  Buah
a.       Buah yang disortir menjadi 2 golongan  dipecah ditempat terpisah
b.      Buah dipecah diatas tikar/karung goni
c.       Buah dipukul dengan kayu, diupayakan jangan sampai biji rusak/pecah Keluarkan biji dari buah
d.      Biji dimasukkan kewadah fermentasi

3.      Fermentase
Tujuan dari fermentasi adalah untuk mematikan lembaga biji agar tidak tumbuh sehingga perubahan-perubahan di dalam biji kakao akan mudah terjadi, seperti warna keping biji, peningkatan aroma dan rasa, perbaikan konsistensi keping biji, dan untuk melepaskan pulp. Biji kakao difermentasikan di dalam kotak kayu berlubang. Selama fermentasi, biji beserta pulpnya mengalami penurunan berat sampai 25%.
 
4.      Perendaman Dan Pencucian
Perendaman berpengaruh terhadap proses pengeringan dan rendemen. Selama proses perendaman berlangsung, sebagian kulit biji kakao terlarut sehingga kulitnya lebih tipis dan rendemennya berkurang. Dengan demikian, proses pengeringan menjadi lebih cepat. Setelah perendaman, dilakukan pencucian yang bertujuan untuk mengurangi sisa – sisa pulp yang masih menempel pada biji dan mengurangi rasa asam pada biji. Apabila biji masih ada sisa pulp, bijiakan mudah menyerap air dari udara sehingga mudah terserang jamur dan juga akan memperlambat proses pengeringan.
5.      Pengeringan
Pengeringan bertujuan untuk menurunkan kadar air biji dari 60 % sampai pada kondisi kadar air dalam biji tidak dapat menurunkan kualitas biji dan biji tidak ditumbuhi cendawan. Pengeringan biji kakao dapat dilaksanakan dengan sinar matahari atau pengeringan buatan. Dengan sinar matahari dibutuhkan waktu 2 - 3 hari, tergantung kondisi cuaca, sampai kadar air biji menjadi 7 – 8 %. Dengan pengeringan buatan, pengeringan biji kakao berlangsung pada temperatur 65oC – 68oC.
6.      Penyortiran Atau Pengelompokan
Biji kakao kering dibersihkan dari kotoran dan dikelompokkan berdasarkan mutunya: Mutu A : dalam 100 g biji terdapat 90 – 100 butir biji. Mutu B : dalam 100 g biji terdapat 100 – 110 butir biji. Mutu C : dalam 100 g biji terdapat 110 – 120 butir biji.
7.      Penyimpanan
Biji kakao yang telah kering dimasukkan ke dalam karung goni. Tiap goni diisi 60 kg biji cokelat kering, kemudian karung tersebut disimpan dalam gudang yang bersih, kering, dan memiliki lubang pergantian udara. Penyimpanan di gudang sebaiknya tidak lebih dari 6 bulan, dan setiap 3 bulan harus diperiksa untuk melihat ada tidaknya jamur atau hama yang menyerang. Sebaiknya, biji kakao bisa segera dijual dan diangkut dengan menggunakan truk atau sebagainya.


BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara.
Tanaman kakao mutlak memerlukan pohon pelindung yang ditanam sebagai tanaman lorong diantara tanaman-tanaman kakao. Tujuan dari adanya pohon pelindung ini adalah untuk melindungi tanaman kakao muda (belum berproduksi) dari tiupan angin dan sinar matahari. Ada dua jenis pohon pelindung antara lain adalah adalah sebagai berikut Pohon Pelindung Sementara. Pohon ini diperlukan untuk melindungi tanaman kakao muda (belum berproduksi) dari tiupan angin dan sinar matahari. Pohon Pelindung Tetap.  Pohon ini harus dipertahankan sepanjang hidup tanaman kakao dan berfungsi sebagai melindungi tanaman kakao yang sudah produktif dari kerusakan sinar matahari dan menghambat kecepatan angin.
Buah kakao bisa dipanen apabila terjadi perubahan warna kulit pada buah yang telah matang. Sejak fase pembuahan sampai menjadi buah dan matang, kakao memerlukan waktu sekitar 5 bulan. Buah kakao matang dicirikan oleh perubahan warna kulit buah dan biji yang lepas dari kulit bagian dalam. Bila buah diguncang, biji biasanya berbunyi. Ketelatan waktu panen akan berakibat pada berkecambahnya biji di dalam. Terdapat tiga perubahan warna kulit pada buah kakao yang menjadi kriteria kelas kematangan buah di kebun – kebun yang mengusahakan kakao, yakni : Kelas kematangan A+, kuning tua pada seluruh permukaan buah. Kelas A, kuning pada seluruh permukaan buah. Kelas B, kuning pada alur buah dan punggung alur buah. Kelas C, kuning pada alur buah.
4.2 Saran
Semoga dengan adanya makalah ini, dapat membantu para petani, khususnya juga kepada para mahasiswa tentang bagaimana cara perawatan tanaman kakao, naungan yang digunakan  untuk tanaman kakao dan cara panen kakao.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim1. 2010. Klon Kakao Unggul Generasi Ketiga. http://pengawas benih tanaman.blogspot.com/2010/02/klon-unggul-kakao-generasi-ketiga.html. Akses 9 April 2012.
Anonim2. 2010. Meningkatkan Kakao dengan Sambung Samping. http://bercocoktanam- kakao.blogspot.com/2010/02/meningkatkan-kakao-dengansambung-samping.html. Akses 9 April 2012.
Anonim3. 2010. Teknologi Sambung Samping Kakao. http://bercocok-tanamkakao. blogspot.com/2010/02/teknologi-sambung-saping-kakao.html. Akses 9 April 2012.
Anonim4. Teknologi SE Kakao Sistem Padat. http://pengawas benih tanaman. blogspot.com/2009/07/teknologi-se-kakao-sistem-padat.html. Akses 9 April 2012.
BBP2TP Surabaya1. 2008. Standar Operasional (SOP) Pemeriksaan Kebun Pembibitan Kakao (Theobroma cacao) Pasca Aklimatisasi Asal Somatic Embriyogenesis (SE). Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementrian Pertanian, Jakarta. 5 hal.
BBP2TP Surabaya2. 2008. Standar Operasional (SOP) Pemeriksaan Kebun Pembibitan Kakao (Theobroma cacao) Siap Salur Asal Somatic Embriyogenesis (SE). Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementrian
Departemen Pertanian RI. Winarno, H. 2006. Budidaya Tanaman Kakao. Agromania
Goenadi, D.H., Baon, J.B., Herman, dan Purwoto, A. 2005. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Kakao di Indonesia. Jakarta. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian,
Hardjosuwito, H. Dan Hermansyah.1982.Alat Pengukur kadar air untuk kopi dan  kakao.menara perkebunan.jakarta
Tumpal, H.Siregar.1989.Budidaya, pengelolaan dan pemasaran coklat.penebar swadaya.jakarta.

ads

Ditulis Oleh : Riswanto Putra Negara Hari: 18:26 Kategori:

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 

Total Pageviews

Sedang Online